Hari-Hari yang Mencurigakan (1)

Foto: Pexels

1

CERITA INI BERAKHIR di Belinyu, kota paling utara di Pulau Bangka, pada suatu siang di bulan November 20xx.

Rudi Rodhom dan Kobra berhadap-hadapan di bekas lapangan parkir Bioskop Bintang Fajar. Aku mengingat tempat ini sebagai salah satu tempat terbaik di dunia. (Jajan permen dan soda. Lorong-lorong kecil yang lembab diterangi untaian lampu merah, hijau, dan ungu. Sorak-sorai. Adegan kungfu yang kadang hanya bisa kulihat dari sela-sela kepala orang dewasa.) Kini ia sama saja dengan kebanyakan bangunan di Belinyu: mencong, lapuk, abu-abu. Sebagian atapnya melorot menutupi pintu utama seperti gaun perak yang tersibak dan menunjukkan betis berkoreng.

Aku meletakkan aktentas (orang biasa menyebutnya tas kantor, tapi aku tak pernah bekerja di kantor) di jok motor dan berlari menghampiri mereka. Keduanya menghunus belati, dan hari terik meski gerimis berderai. Kupikir Rodhom akan mati sebentar lagi. Aku tidak ingin ia mati. Tidak setelah semua yang kulakukan untuk menemukannya.

Baru beberapa langkah, kudengar petir menggelegar. Aku berbalik dan melihat sebatang pohon di sisi kanan jalan, hitam dan terbalut api, tumbang menimpa sepeda motorku. Aku mendengar seseorang menjerit dari arah berlawanan. Kutolehkan muka ke bioskop dan, anjing, Rodhom terjengkang, kehilangan senjata. Dia berkesot mundur, mengepel parkiran dengan bokongnya.

TERUS TERANG SAJA, aku selalu menertawakan cerita orang-orang tentang persimpangan dalam hidup mereka. Mungkin ini giliranku. Seseorang mungkin sedang menertawakanku. Tapi terus terang saja, ini waktu untuk berlari. Pikiran hanya membuatku lamban. Lari, Anjing, lari!

Seiring ayunan kaki, gambar-gambar buram dalam kepalaku saling tabrak dan menghancurkan, dan menyusun dirinya kembali secara awur-awuran menjadi pasel yang ganjil. Kira-kira begini gambarnya:

[Gambar]

Saat cerita ini dimulai, aku hanya hidup dari hari ke hari, terjerat pelbagai utang dan kewajiban tanpa sedikit pun memahami apa yang sesungguhnya kuinginkan. Segalanya penting sekaligus tidak penting dan aku merasa memiliki sekaligus kehilangan segalanya.

“Mengapa hidup ini asyik direnungkan — ” kataku suatu tengah malam kepada Bodhi, saudaraku dalam kesusastraan, saat kami teler di atas aspal Jalan Damai, Sleman. Punggungku dingin dan gatal.

“Tapi selalu membuatmu merasa habis menginjak tahi anjing?” katanya memotong. Aku mengangguk cepat dua kali.

“Dan barangkali telah kuseka tahi anjing dari sandalmu,” katanya lagi, tiba-tiba, sambil merentangkan tangan, “barangkali, telah kauseka tahi anjing dari sandalku.”

Aku meraih satu sandal gunung Bodhi dan melemparnya ke semak-semak di pinggir jalan. “Ini sandal terbang tak berkawan!” kataku, menjawab Goenawan Mohammad dengan Warih Wisatsana.

Aku merangkak ke arah sandalnya yang lain, dekat sepeda-sepeda kami yang tergolek. Bodhi bangkit lebih dulu dan menyambar sandalnya lalu menyepak rusukku kuat-kuat. Aku muntah dan kami terbahak-bahak.

Malam itu, seperti kemarinnya dan besoknya dan lusanya, kami menonton acara pembacaan puisi. Tidak ada acara pembacaan puisi di Jogja yang kami tidak tahu. Mendengarkan orang-orang membaca puisi adalah cara terbaik nomor dua untuk mati pelan-pelan, setelah saling menendang dalam keadaan teler.

Kalau tahu puisi yang dibacakan di panggung, kami meneriakkan pelesetan kalimat-kalimatnya sampai panitia acara mengusir kami (atau tidak). Kalau sebaliknya, kami mengganggu dengan tertawa keras-keras (untuk panggung besar) atau bersendawa (panggung kecil), sampai penyair yang berada di atas panggung tak tahan lagi dan mengajak kami berkelahi (atau tidak).

Kami perusuh yang menulis, bukan sebaliknya. Beberapa tulisanku dan Bodhi dimuat koran-koran gurem seperti Kedaulatan Rakyat Bisnis dan Minggu Pagi dan Koran Merapi, terapit iklan-iklan obat kuat (favoritku adalah “Black Mamba”) dan layanan telepon seks. Siapa yang mengingat puisi atau cerita dari tempat-tempat seperti itu? Setahuku, setiap kali orang membicarakan “sastra koran,” seperti apa pun nadanya, yang mereka maksud ialah koran-koran terkenal, bertiras besar, dan menyediakan bayaran buat para penulisnya.

“Nggak bisa begini terus. Kita mesti ambil jalan Frost,” kata Bodhi pada malam yang sama, saat kami meluncur menuruni jalan Kaliurang. (Robert Frost, The Road Not Taken. Basi.) Rusukku berdenyut-denyut saat aku menegakkan punggung. Makin banyak bicara, makin kencang juga Bodhi mengayuh pedal sepedanya yang cuma besi telanjang.

“Bikin komunitas?”

“Iya, lah.”

“Asalkan namanya nggak norak,” kataku sambil merapatkan jaket dengan tangan kanan. Jari-jariku menyentuh rusuk dan isi kepalaku serasa dikocok setan.

“Lapar Siang-Malam bagus, nggak? Disingkat LSM.”

Esok sorenya aku mengantarkan Manifesto Lapar ke indekos Bodhi. “Kau harus lapar untuk memahami kenyataan, dan tak ada yang lebih nyata dibandingkan rasa laparmu,” tulisku sebagai kalimat penutupnya.

Bodhi membaca manifesto berkali-kali, baik dari depan ke belakang maupun dari belakang ke depan, dan menambahkan tanda centang di sana sini.

“Kau penulis nonfiksi terbaik yang kukenal,” katanya, dan kami menghabiskan sisa hari itu bersama Rajawali — inilah minuman para dewa, kata penjualnya — dan film-film Jet Li.

Aku tertidur di tengah film ketiga, Fist of Legend, dan terbangun pada tengah malam. Tepatnya dibangunkan oleh induk semang Bodhi, orang tua pincang tak tahu diri yang senang membandingkan rumahnya yang kotor dan bau keputihan itu dengan hotel. Kadang kami menyebutnya Don Quixote.

“Cari saja, Bos, kalau ada hotel yang membolehkan orang menginap gratis,” kata Don Quixote kepada setiap teman Bodhi yang diusirnya. Semua orang tahu kepribadiannya secacat kakinya, tapi tak ada yang mengatakan itu keras-keras — termasuk istrinya, yang sekali waktu justru mengangkang makin lebar sambil mesam-mesem selagi kawan kami Agus Sudjatmika, yang tak sengaja menerobos kakus tempatnya berjongkok, terpana dan berak di celana.

MANIFESTO LAPAR terbit sebagai pengantar buletin Ahasveros edisi pertama. Dari kios fotokopi, kami menyebarkannya secara cuma-cuma di Fakultas Seni dan Bahasa Universitas Negeri Yogyakarta, kampus Bodhi, dan Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, kampusku.

Bodhi menumbuk seorang seniornya saat puki monyet itu membuang buletin kami ke comberan, dan aku, yang tahu belakangan, hampir menghantam bagian belakang kepala seniornya yang lain, yang tak tahu apa-apa, dengan balok seukuran bocah tiga tahun.

Sebulan kemudian, kami mencetak edisi kedua sebanyak 60 eksemplar, dua kali lipat edisi pertama, dan menemukannya lebih banyak lagi di comberan sepanjang jalur kami membagikannya.

“Setidaknya, tulisan kita mengalir sampai jauh,” kata Bodhi.

“Memangnya pancut bapakmu?” kataku.

“Apa itu pancut?”

Aku membuat gerakan seperti ini:

[Gambar]

Bodhi tahu aku cuma makan sebungkus mi instan dan minum air putih selama dua hari agar punya uang untuk mencetak buletin kami, jadi ia tak merajuk walaupun benar bahwa peju bapaknya mengalir dan membikin bunting perempuan berderet-deret dari Sukabumi sampai Cirebon, ditambah dua kasus improvisasi dengan sesama pria punya selera paruh baya di Subang dan Purwakarta.

Kata Bodhi, dia pernah memergoki bapaknya kencing di pekarangan belakang rumah mereka sambil berteriak keras sekali dan mencabut gedebok pisang. Kira-kira begini gambarnya:

[Gambar]

Kami segera mengevaluasi dua edisi pertama Ahasveros dan memperoleh kesimpulan: Pertama, Irwan Bajang, perancang sampul dan penata letak isi, sebagai konsekuensi atas fiksasinya terhadap ornamen renda dan sulur-sulur menjembut, tak perlu dilibatkan lagi. Kedua, tulisan-tulisan selain karya kami berdua buruk minta ampun.

“Sekarang aku punya andalan,” kata Bodhi. Ia mengangkat perut dan mengelap lipatan di bagian bawahnya yang berkeringat dalam satu gerakan, lalu mengendus jari-jarinya. “Tanpa puisiku dan esaimu sekalipun, edisi ketiga harus terbit. Harus. Kalau firasatku benar, Ahasveros akan jadi hal besar berikutnya karena naskah ini,” katanya.

“Kenapa firasatmu tidak benar sejak edisi pertama saja?” kataku sambil menerima empat lembar kertas lecak yang ia sodorkan, fotokopian puisi-puisi yang ditulis tangan. Rusukku sudah lama sembuh, tapi jonjot-jonjot dalam ususku mungkin sedang saling membelit, mengisap, dan memeras.

Saat kubaca lembar pertama, ada sesuatu yang lain terasa bergerak dalam perutku, mungkin pankreas atau usus dua belas kilometer atau apalah. Aku bersendawa dan berpikir bahwa aku takkan melupakan apa yang baru saja kubaca seumur hidupku:

Baiklah kuterima
debu hujan lumpur
pengusiran ini.

Kupalingkan muka
dari buntung
dan pincang dunia.

Kembalilah matahari
Pagi seribu ayam
mematuk seribu biji mata
hari-hari yang mencurigakan.

FIRASAT KAMPANG itu tentu saja keliru. Ahasveros edisi ketiga, berisi puisi-puisi si penyair misterius, satu esaiku yang membahasnya panjang lebar, dan satu cerita pendek oleh Bodhi, lebih tidak diminati ketimbang edisi-edisi sebelumnya. Mengalir, sekali lagi, mengalir sampai jauh….

Kami memutuskan untuk berhenti menyerang orang-orang yang melecehkan kerja kami. Kami belajar, lewat cara yang sulit, bahwa memang tidak ada cara buat membina para bedebah menjadi manusia beradab.

“Cita-cita kesusastraanku sudah sampai di Purwekerto, Bung,” kata Bodhi di indekosku yang bersih dan terang tetapi konon dikangkangi genderuwo pesugihan induk semangku, seorang pensiunan polisi yang lumpuh karena stroke, sehari setelah penerbitan edisi ketiga.

“Artinya, kalau kau belum paham, sekarang aku harus berhenti lama,” katanya.

Seminggu kemudian Bodhi diwisuda dan menghilang. Dia mengirim SMS. Isinya, yang aku tak ingin menceritakannya secara terperinci, adalah tuntutan dari ibu dan adik-adik kandungnya supaya ia pulang ke Tasikmalaya dan ikut tes pegawai honorer kantor walikota atau jadi asinan bulu babi atau apalah. Katanya, dia tahu aku sangat berminat kepada penyair yang sajaknya kami terbitkan di Ahasveros edisi terakhir.

Penyair itu, katanya, bernama Rudi Rodhom (kadang ditulis Roadhome, sama saja), menghilang sejak 1998, tepatnya pada hari Soeharto mesam-mesem menyatakan mundur dari jabatannya.

“Naskah kemarin kutemukan terselip dalam novel 39 Steps karya John Buchan, terjemahan Landung Simatupang, di Perpustakaan Kota,” tulis Bodhi. “Kurasa ia sendiri yang menaruhnya. Ada tulisan tangan yang mirip di buku itu.”

*[Gambar] seharusnya berisi ilustrasi, tapi penulis cerita ini belum sempat mengupayakannya.

Penulis, editor, penerjemah

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store